Pemulung Satu Kaki Empat Anak

Mak Atin di tendanya

Mak Atin di tendanya

Fuih, garang nian sinar mentari siang. Seolah hendak membakar kembali puing bekas kebakaran di Kampung Bojong Kavling, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat.

Tak jauh dari Posko Indonesia Care Connection (ICC) Dompet Dhuafa di Masjid Al Husna yang selamat dari amukan api, tiga keluarga berhimpun dalam naungan sebuah tenda biru mungil. Ngadem, sambil berbagi cerita, ketika api melahap kampung mereka dua hari sebelumnya.

‘’Yang penting saya bisa menyelamatkan 2 anak saya ini,’’ ujar Ny Suprihatin, sambil memeluk dua bocah kumal, yang satu masih netek. Dua lagi anaknya yang berangkat remaja bisa menyelamatkan diri sendiri. ‘’Kaki saya kan cuma satu, mana bisa bolak-balik ngambil barang-barang kayak orang-orang. Anak ketiga ini saja hampir kobong karena lagi tidur nyenyak,’’ lanjut janda asal Semarang yang sehari-hari pemulung.

‘’Saya hanya sempat membawa mesin cuci, dan si Bonjo,’’ kata Ny Anah. ‘’Kasihan kan, kalau kebakar tinggal tulang,’’ imbuh dia, sambil membujuk monyet kecil yang dinamai Bonjo agar tak berisik. Api menghabiskan rumahnya yang berlantai dua. Kini ia hidup di bawah tenda bersama dua anaknya, sambil menampung dua keluarga tetangga.

Pastilah, nggak ada orang yang pengen kena musibah kayak begini, kata Ny Suprihtin lagi. ‘’Tapi kalau dibanding-bandingkan, mending kebanjiran daripada kebakaran. Kalau kena banjir, gubuk masih ada bekasnya, barang bisa dicuci-cuci. Tapi kalau kebakaran kayak gini kan entek kabeh. Sampai-sampai duit Rp 30 ribu hasil jualan rongsok juga kebakar,’’ tutur wanita yang ditinggal kabur suami saat hamil anak keempat.

Untunglah, tetangga yang tadinya cukup berada, mau berbagi dengan pemulung serba kumal ini.

Dan, kebakaran tak hanya menautkan rasa senasib. Di sana juga masih tersisa kejernihan hati. ‘’Geni iki pesen kanggo kito (api ini pesan buat kita),’’ kata Mbah Atin, bapak Suprihatin, sambil membetulkan letak peci putihnya yang sudah luntur kecoklatan. ‘’Iso sabar, nampa tekdir, opo ora. Yen iso, bakal dibalekke maneh (Bisa sabar menerima takdir atau tidak. Kalau bisa, bakal dikembalikan lagi),’’ tuturnya.

‘’Alhamdulillah, aku isih kebagian sayur, to Tin. Biso turu mengko bengi (Alhamdulillah, aku masih kebagian sayur ya Tin, [sehingga kalau makan ini] nanti malam bisa tidur),’’ Mbah Atin kegirangan menemukan bungkusan soto jatah pagi. Lalu ia menyingkir ke tempat teduh untuk menikmati nasi sotonya.

Bencana juga mengundang LSM, Parpol, dan orang per orang untuk menunjukkan peduli. Walaupun ada sangka tak elok tentang motif politik atau propaganda keyakinan.

Yang jelas, Indonesia laksana supermarket bencana. Baik berupa bencana alam (sunatullah) maupun akibat perbuatan manusia.

Dalam kurun 1998-2004 terjadi 1150 kali bencana, dengan korban jiwa 9900 orang serta kerugian sebesar Rp 5922 miliar (Bakornas PB, 2005). Itu di luar tsunami NAD-Sumut yang konon menelan korban 150 ribu jiwa. Tiga bencana utama adalah: banjir (402 kali, korban 1144 jiwa, kerugian 647,04 Milyar), kebakaran (193 kali, korban 44 jiwa, kerugian 137,25 Milyar) dan tanah longsor (294 kali, korban 747 jiwa, kerugian 21,44 Milyar).

Pesan yang ‘’belum sampai’’ ke kita, tampaknya, untuk mengelola negeri secara lebih tertib. Selalu saja kita tergagap saat bencana tiba, meskipun bencana itu sudah jadi ‘’langganan’’ seperti kebakaran dan kebanjiran. Sampai-sampai Andre Vitchek menyebutnya bukan lagi sebagai bencana, melainkan ‘’pembunuhan massal’’.

Lebih berbahaya lagi, bila orang-orang baik pun diam saja melihatnya! (Pane Fakhri/Deras DD Republika)

Say your words