Masjid Peduli Da’i

            

Jangan kaget kalau Anda sholat Jum’at di Masjid Al Wahidin, Muara Siberut, Mentawai. Di masjid ini, kotak amal yang diedarkan saat sholat Jum’at tak cukup satu, tapi empat. Masing-masing untuk operasional masjid (DKM), dana yatim piatu, dana sosial jamaah, serta dana da’i.

‘’Kami rutin mengundang para da’i Dewan Dakwah di pedalaman untuk koordinasi di masjid ini. Mereka datang dari Desa Sagalubek, Munthei, Malilimok, Sarausau, Saliguma, Rogdok, dan sebagainya, dengan menumpang perahu atau pompong (perahu kecil). Lama perjalanannya antara satu jam sampai empat jam. Ongkosnya dari Rp 40 ribu hingga Rp 100 ribu per orang sekali jalan. Masjid akan mengganti ongkos transport mereka, sekaligus memberi sedikit tunjangan hidup,’’ Ustadz Ramli MR, ketua DKM Al Wahidin, menuturkan alokasi dana da’i yang dihimpun masjid.

Memang begitulah semestinya. Seperti dijelaskan oleh mantan Ketua Dewan Masjid Indonesia, Prof Ahmad Sutarmadi, ada tiga fungsi masjid. Pertama, masjid merupakan pusat ibadah, baik ibadah mahdhah (ritual) maupun sosial. Kedua, masjid menjadi pusat pengembangan masyarakat, melalui berbagai media seperti khutbah, pengajian, kursus ketrampilan yang dibutuhkan anggota jamaah, dan pendidikan informal sesuai kebutuhan masyarakat. Dan, ketiga, masjid sebagai pusat pembinaan persatuan ummat.
Dengan semua fungsinya itu, masjid mutlak membutuhkan da’i. Tanpa juru dakwah yang memakmurkannya, masjid akan kehilangan peran. Sebaliknya, da’i pun memerlukan masjid untuk menjalankan tugasnya. Dengan kata lain, masjid dan da’i saling memiliki. 
Ribuan da’i di pedalaman yang dibina oleh lembaga semacam Dewan Dakwah, nyaris semuanya hidup pra-sejahtera. Da’i Dewan Dakwah misalnya, sekadar mendapat tunjangan antara Rp 100.000 hingga Rp 250.000 seorang per bulan. Selebihnya, mereka harus fight sendiri di medan juang. Satu dua orang ada yang tak tahan, lalu memilih pulang kampung.
Nah, untuk sedikit meningkatkan tunjangan buat da’i, LAZIS Dewan Dakwah menggelar program masjid peduli da’i. Program bertajuk ‘’Satu Masjid Satu Da’i’’ ini mengajak setiap masjid menyisihkan dana Rp 250 ribu, Rp 500 ribu, atau Rp 750 ribu per bulan untuk seorang da’i pedalaman.
‘’Jumlah masjid di Indonesia saat ini sekitar 700 ribu buah. Ini jumlah terbesar di dunia, meliputi jajaran masjid di bentang dunia sepanjang Bangladesh hingga Maghribi. Kalau sepuluh persen saja masjid berpartisipasi dalam program ini, maka akan ada 70.000 da’i di Tanah Air tersantuni,’’ papar Drs Mohamad Siddik MA, Direktur LAZIS Dewan Dakwah.

Sebagai kontra-prestasi bagi masjid peserta program ini, LAZIS Dewan Dakwah akan turut memakmurkan masjid tersebut dengan berbagai kegiatan. Misalnya layanan kesehatan massal untuk warga dhuafa sekitar masjid, yang selama ini telah dioperasikan mobile clinic Dewan Dakwah.

‘’Kami juga siap memberikan beberapa paket training untuk pengurus masjid, misalnya training manajemen masjid, pembentukan Lembaga Amil Zakat, dan pelatihan dakwah,’’ kata Mohamad Siddik.

Masjid Anda, ikut juga kan? (nurbowo/LAZIS DDII-Dialog Jumat Republika)

Say your words