Seekor Mangali

Sungguh, jangankan para nelayan tradisional Pulau Tunda, saya sendiri tidak percaya hari Jumat itu (10/4) bakal mendapat ikan mangali seberat 5 kg. Luar biasa untuk ukuran pemancing amatiran dengan menggunakan pancing tradisional yang hanya terdiri senar, besi pemberat, dan pancing, dengan umpan ikan kembung kecil. Entah kenapa pula, saya ngotot untuk minta bagian kepala, sementara dada dan punggung-ekor biar dibawa Sunaryo dan Asep. Sampai di rumah, istri terpana. Bukan hanya lantaran ”prestasi” suaminya, tapi karena bawaan saya itu menjadi jawaban atas flash of mind-nya. ”Tau nggak, Mas,” kata istri. ”Kemarin di rumah Mamak (di Islamic Village), rencananya mau masak kepala ikan kakap yang gede. Eh, masaknya ditunda lalu ikannya disimpan di kulkas. Padahal aku sudah ngiler banget mau makan gule kakap. Sampai kebayang terus waktu pulang ke rumah. Eh, rupanya diganti sama Allah….” Giliran saya yang terpana. Pantas, sebelum dapat ikan itu, pancing saya sudah disambar ikan yang berat rasanya. Karena belum pakai kaus tangan, pancing saya serahkan ke nelayan untuk menariknya. Eh, malah lepas. Baru setelah saya tarik sendiri, dapat. Thanks God!

resize-of-dapat-ikan-mangali

resize-of-dapat-ikan-mangali-2

Say your words