Archive for DHUAFAku

Mimpi Pak Abu

Pak Abu di bengkelnya

Pak Abu di bengkelnya

Seperti malam-malam jahanam sebelumnya, malam itu Pak Abu pulang ke gubuknya setengah teler. Hatinya mendidih, tapi keringat dingin yang meleleh. Uang belasan ribu hasil nguli seharian, sudah tandas di meja judi. Padahal Abu berharap, bila menang, ia bisa membeli tak hanya beras. Tapi juga lauk pauk dan obat buat anak-istrinya yang kini sudah terlelap berkasur tanah berbantal tangan.

Tengah tercenung merutuki kekalahannya, tiba-tiba Abu mendengar Yuni, anaknya, terisak. Ia simak, lirih tangisan Yuni dibarengi derit nafas ngik-ngik-ngik.

Abu terperangah memandangi putrinya yang tergolek pucat di atas tikar. Sudah seminggu ini semata wayangnya sakit batuk dan sesak nafas. Yuni tampak tersiksa betul karenanya. Namun setiap kali Abu bermaksud membelikan obat, selalu saja gagal. Duitnya habis untuk berjudi dan berjudi lagi.

Dengan iba Abu membelai rambut Yuni. Tiba-tiba lelaki asal Bekasi berusia 59 tahun itu menangis sesenggukan. Sampai anaknya kelas 4 SD, Abu kecanduan judi. Kalau menang berarti Yuni dan Yeyeh emaknya turut makan uang panas. Tapi Abu lebih sering kalah dan itu berarti merampok jatah belanja sekeluarga.

‘’Suami dan bapak macam apa aku ini!’’ gugat Abu pada dirinya sendiri. Sepotong bulan putih di langit menjadi saksi keinsyafan Abu malam itu.

Esoknya, Abu yang warga Pondokmiri, Desa Rawakalong, Kecamatan Gunung Sindur, Bogor, mendatangi Pak Haji Muji, tetangga sebelah. ‘’Saya tobat Pak Haji, nggak mau judi lagi. Saya pingin sembayang,’’ kata Abu. Selain itu, ia juga minta kerjaan apa saja. Bayarannya mau buat modal usaha.

Pak Haji lalu memberinya kain sarung, baju koko, dan peci baru buat shalat. Dengan nguli 4 hari pada Pak Haji, Abu juga mendapat honor Rp 80 ribu.

‘’Dengan uang itulah, setahun lalu saya mulai usaha buka bengkel sepeda ini,’’ kenang Abu saat ditemui di gubuk sekaligus bengkelnya.

Sebagai satu-satunya di kampung itu, bengkel sepeda Pak Abu terkenal. Selain melayani servis sepeda dan pompa air, Pak Abu juga menjual sepeda rakitan. ‘’Saya beli sepeda rongsok kiloan dari pemulung, lalu saya dandani dan jual. Lumayan, untungnya bisa gedean,’’ tutur Abu.

Jerih payah Abu tak sia-sia. Meski belajar di gubuk sempit dan berantakan, Yuni yang kini kelas 5 SD Nusa Indah Pondokmiri selalu masuk rangking 10 besar di kelasnya. Dia pun rajin mengaji dan membantu emak.

‘’Alhamdulillah tu bocah pinter banget. Nebak kuis kata-kata di televisi juga bisaan,’’ ujar Abu bangga.

Jelang puasa dan lebaran ini, Abu berharap mendapat keuntungan lebih besar untuk sekadar membahagiakan anak-istri. ‘’Saya juga pingin punya tanah sendiri dan gubuk yang agak bagusan kayak orang-orang,’’ kata Abu malu-malu.

Ia melanjutkan, kalau saja punya modal barang sejuta rupiah buat memborong sepeda rongsokan, dalam sebulan ia yakin bisa dapat untung Rp 300 ribu. ‘’Tapi buat ndapetin uang sejuta kan saya kudu nguli berapa tahun,’’ Abu terkekeh menertawakan mimpinya.

Hanya mimpikah Pak Abu? (Pane Fakhri/Deras DD Republika)

Leave a comment »