‘’Awas, Pendekar Noban beraksi.’’ Begitu kata kawan-kawan kerja Widikdo Yuwono, jika lelaki ini ngider pada tanggal muda. Setiap hari gajian, Yuwono memang berkeliling mengumpulkan sedekah dari para karyawan pabrik grup Gajah Tunggal tempatnya bekerja. Sumbangan yang rata-rata Rp 20 ribu (Bhs Cina: noban) per orang itu lalu ia setorkan ke PPPA.
Awalnya, kelahiran Jakarta, 25 Feb 1973, ini memang keder juga dipanggil ‘’Pendekar Noban’’. Itu pun masih mending, katanya. ‘’Ada yang memanggilku debt collector, bahkan menyebutku pemeras,’’ ujar salah satu simpul PPPA di Tangerang ini.
Tapi, Widikdo cuek aja. Semua sebutan yang diterimanya, ia anggap sebagai canda belaka.
‘’Kalau aku sendiri yang sedekah, kan tidak bisa banyak. Jadi biar dapat pahala lebih gede, kuajak orang lain untuk bersedakah,’’ tutur Widikdo, sambil mengutip taushiyah pimpinan Wisatahati Ustadz Yusuf Mansur bahwa siapa yang mengajak pada suatu kebaikan dan ajakannya diikuti, maka Allah mencatatnya sebagai pahala tanpa mengurangi ganjaran yang mengikuti ajakan itu.
Widikdo Yuwono memang reborn di Wisata Hati. Awalnya, pada 28 Februari 2007, ia berada di puncak kegelisahan. Diuber-uber utang yang tak jua mampu dilunasinya. Sekitar pukul jam 11 siang, perang batin berkecamuk di hatinya. Setan merayunya pergi ke dukun untuk minta jimat penebus utang, sedangkan malaikat melarangnya.
Sosok Ustadz Yusman tiba-tiba lekat di benak Widikdo. Ia ingat, Ustadz inilah yang suka mengajarkan solusi masalah hidup seperti utang, jodoh, atau ingin punya anak. Widikdo pun menyambangi Sang Ustadz.
Pada 3 Maret 2007, sesuai arahan Ustadz, Widikdo mulai mengikuti bimbingan konseling di Masjid At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah.
‘’Setelah mengikuti konseling, pikiran saya jadi terbuka. Dan malam harinya, saya bisa menangis. Padahal, sudah lama banget saya nggak bisa nangis,’’ kenang Widikdo.
Sejak itu, ia tak pernah ketinggalan mengikuti pengajian dan konseling Wisatahati. Perlahan, persoalan yang membelit Widikdo teratasi. Utang keluarga Rp 150 juta mulai tercicil. Hidupnya pun menjadi lebih tenang, tidak grubag-grubug seperti dulu.
Selanjutnya, Widikdo berkomitmen mendukung PPPA sekuat kemampuan. Merasa sedekahnya masih belum seberapa, ia pun menjadi simpul PPPA dengan segenap suka-dukanya. Bravo Pendekar Noban! (aya hasna/Newsletter PPPA)